Nabi Isma’il A.S., Teladan Ayah Dalam Menjaga SHalat Keluarga

Oleh: Dr. Wido Supraha, M.Si. (SekolahAdab.Com)

Di dalam Al-Qur’an, banyak sekali sosok-sosok Ayah yang sangat patut dijadikan teladan bagi para Ayah hari ini. Di antara sosok tersebut adalah Nabi Isma’il a.s., anak dari Nabi Ibrahim a.s.

Ya, beliaulah sosok yang sejak kecil telah ditanamkan iman dan adab oleh Ayahnya. Ia pun tumbuh besar hingga berkeluarga sebagai sosok Muslim yang mulia. Kemuliaannya dibangun di atas sifat dasar: selalu menepati janji.

Perhatikan Surat Maryam [19] ayat 54-55:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55)
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk mengerjakan salat dan menunaikan zakat; dan ia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya.

Allah SWT menyebutkan kisah tentang beliau agar seluruh manusia mempelajari dan meneladaninya. Di antara sifat utamanya adalah menepati janji. Ketika seorang suami berjanji setia dalam sebuah ikatan suci pernikahan, sejatinya ia telah berjanji untuk menjadi suami yang baik bagi istrinya, sekaligus ayah yang baik bagi anak-anaknya.

Suami yang baik adalah sosok yang memposisikan dirinya sebagai Imam bagi Istrinya, dan karenanya ia akan bersemangat untuk menuntut ilmu tentang bagaimana menjadi Imam Terbaik. Begitupun Ayah yang baik adalah sosok yang memposisikan dirinya sebagai pelindung, penjaga, pendidik, pemotivasi, pemberi fatwa, serta sahabat sejati bagi anak-anaknya.

Setelah iman kepada Allah, maka seluruh kebaikan manusia sejatinya berpusar pada Shalat dan Zakat. Jika Shalat akan menjaga hubungan seorang manusia kepada Allah (hablun minallah), maka Zakat adalah wujud kecintaan kepada sesama manusia sekaligus ekspresi diri bahwa dunia hanyalah di genggaman tangan, bukan di dalam jiwa.

Seorang suami dan ayah yang baik adalah yang sentiasa mendidik dengan pembiasaan baik berupa menegakkan Shalat Berjama’ah dan menunaikan Zakat. Mereka mendorong bukan sekedar terlaksananya Shalat dan Zakat tersebut, melainkan juga menikmati dalam mengerjakannya.

Selepas Shalat, seorang Ayah akan membiasakan anak-anaknya untuk tidak bersegera menjauh dari Masjid sebelum menikmati dzikir-dzikirnya yang sempurna, sebelum menundukkan kepalanya dalam do’a-do’a yang panjang kepada Rabb-nya, dan sebelum menunaikan Shalat Sunnah Rawatib Qabliyah. Agar ini menjadi kebiasaan (habit) keluarganya, dibutuhkan konsistensi mengingatkan dan konsistensi motivasi.

Maka dalam hal ini, yang diminta oleh Allah kepada para Suami dan Ayah adalah konsistensi berbalut kesabaran. Hal ini dapat dengan jelas dipahami dari surat Thaha [20] ayat 132:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.

Kesabaran adalah kunci kesuksesan, maka bersabarlah dalam setiap kebaikan yang kita mulai, jika memang kita yakin menjadi Suami dan Ayah yang baik adalah sebuah kebaikan.

Terakhir, rawatlah keterikatan hati Suami dengan Istri karena mendidik itu berdua bukan sendiri. Keserasian lebih dibutuhkan daripada Kesetaraan. Rawatlah kualitas jiwa antara Suami dan Istri juga dengan Shalat, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Abu Dawud dan Ibn Majah:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ نَضَح فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ، وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
Semoga Allah merahmati seorang lelaki yang bangun di malam hari, lalu salat, dan membangunkan istrinya (untuk salat bersamanya); jika istrinya menolak, maka ia mencipratkan air ke muka istrinya (agar bangun). Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun di tengah malam, lalu salat, dan membangun­kan suaminya (untuk salat); jika suaminya menolak, maka ia mencipratkan air ke mukanya (agar bangun).

Maka sebagaimana riwayat dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah r.a., pasangan pendidik sejati yang selalu menjaga hubungannya dengan Allah SWT di keheningan malam itu mendapatkan gelar: Adz-Dzakirinallaaha Katsira wa Adz-Dzakirat:

إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ، كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ
Apabila seorang lelaki bangun di tengah malam, lalu ia membangunkan istrinya, kemudian keduanya salat dua rakaat, maka dicatatkan bagi keduanya (di dalam buku catatan amalnya) termasuk laki-laki dan wanita yang banyak berzikir kepada Allah.

Semoga Allah SWT memberkahi keluarga sahabat semuanya. Bittaufiq wannajah.


SekolahAdab.Com
▪️ Kondisi Lokasi Pembelajaran: https://www.youtube.com/watch?v=Q7ZZVY2kkLo&t=1061s
▪️ Profil dan Informasi Pendaftaran: https://online.fliphtml5.com/lmgfp/brum/#p=1
▪️ Testimoni Orang Tua: https://www.youtube.com/watch?v=nW0VapH6MAo
▪️ Penjelasan Kurikulum: https://sekolahadab.com/2022/02/06/kurikulum-sekolah-adab-insan-mulia/
▪️ Pesan-pesan Dinding: https://www.instagram.com/p/Cam3-mvhWp9/
▪️ Lokasi: https://goo.gl/maps/PyBTBifHK8e5DhVJ8

💢 IG: https://instagram.com/sekolah_adab
🌐 Official Website: https://sekolahadab.com
📞 Call Center: https://wa.me/6287726541098

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s