Membangun Adab dengan Tadabbur Al-Qur’an (02)

Oleh: Dr. Wido Supraha, M.Si.

Tadabbur Dasar Kurikulum Adab

Tadabbur bermakna berpikir mendalam menghayati seluruh firman Allah SWT, merenungkan sebab dan akibat dari segala sesuatu, hingga mendapatkan banyak makna dan hikmah sebagai sumber motivasi gerak dalam kehidupan. Gemar mentadabburi dan mendalami makna Al-Qur’an adalah bukti kecintaan kepadanya. Berpikir selain bentuk pekerjaan dasar manusia juga syarat lahirnya peradaban. Berhenti berpikir akan menyebabkan semakin jauhnya peradaban gemilang yang hilang itu kembali.

Melalui perintah Tadabbur Al-Qur’an (Q.S. 38:29), Allah SWT menginginkan agar manusia ini mengejar kepahaman (al-fahmu) sebagai wujud kualitas berinteraksi bersama Al-Qur’an. Tadabbur akan membentuk aliran proses berpikir benar (a right flow-process of thinking), kedisiplinan berpikir, sebagai syarat paling utama untuk beramal benar. Di antara parameter keberhasilannya adalah kegemaran manusia untuk mengisi waktu-waktunya dengan program kehidupan yang menjadikan umurnya sentiasa berkah dan mengalirkan pahala, meningkatkan keimanan, memiliki kekuatan mental yang sempurna, meluaskan khazanah intelektual, mendapatkan bimbingan solusi dari semua persoalan kehidupan yang akan dilaluinya, dan tergerak aktif untuk memberikan manfaat bagi alam semesta (nafi’un li ghairihi). Bergerak dari keshalihan intelektual individu kepada keshalihan sosial.

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.

Tadabbur akan membawa manusia dari kondisi tidak mengenal Allah (jahil), menjadi mengenal-Nya (‘alim). Jika manusia gemar memahami apa yang diketahuinya maka ia akan bergerak menuju fahim, dan terbiasa mengejar pemahaman yang mendalam itulah yang disebut faqih. Proses yang dibutuhkan dari jahil menuju faqih bukanlah proses yang sebentar, dia membutuhkan waktu yang lama (thulu az-zaman), namun hanya ini pilihannya, dan bersabar menjadi kunci kesuksesannya. Tidak ada yang baik dalam ketergesaan dan keterburu-buruan, karena segala sesuatu yang bersifat instan sejatinya kematangan yang dipaksakan.

Dahulu, Tsabit al-Banani membutuhkan waktu 20 tahun untuk memahami seluruh isi Al-Qur’an, namun mendapatkan kenikmatan hidup dari pemahamannya tersebut pada 20 tahun berikutnya. Sahl bin Abdullah at-Tustari bahkan merasakan indahnya kebiasaan tadabbur sehingga ia merasakan bahwa seandainya manusia memiliki seribu pemaknaan atas setiap huruf dalam Al-Qur’an, maka itu pun bukan akhir dari seluruh makna Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan luas dan kedalaman kandungan kalam-Nya.

Begitu pentingnya tadabbur, sehingga Allah SWT menyindir hamba-Nya yang tidak pernah sempat melakukannya (Q.S. 47:24). Padahal ada banyak pelajaran keimanan dan keilmiahan yang akan diperoleh darinya (Q.S. 4:82). Parameter manusia yang mendapatkan manfaat dari Tadabbur adalah kemampuan pengendalian diri dari keinginan berbuat maksiat, dan seorang penghafal tidak memandang hafalannya seperti keledai yang memikul kitab-kitab tebal (Q.S. 62:5).

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an? Ataukah hati mereka sudah terkunci?

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Sebagai panduan hidup, rahmat, dan kabar gembira bagi manusia, Al-Qur’an hadir dengan kemudahan untuk memahaminya (Q.S. 54:17). Tidak mungkin Al-Qur’an hadir dengan kandungan yang sulit dipahami oleh manusia yang secara umum awam terhadap agamanya. Faktanya, mayoritas kandungan Al-Qur’an dimudahkan untuk dipahami oleh orang Arab karena faktor bahasa, dan juga banyak yang dapat dipahami dengan mudah oleh banyak orang yang mempelajari bahasa Arab. Sementara sebagian kecil kandungannya dapat diketahui melalui lisan para ulama dan sebagian kecil lainnya adalah milik Allah SWT.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

Di antara kandungan yang dapat dipahami tanpa ilmu alat yang mendalam seperti ilmu tentang eksistensi Allah, Hari Kiamat, motivasi, ancaman, dan janji-Nya. Menyadari bahwa mayoritas kandungan Al-Qur’an adalah sesuatu yang mudah dipahami, maka semangat manusia untuk mentadabburinya harus tinggi. Tidaklah setiap ayat Al-Qur’an turun atau dibacakan kepada para generasi awal dahulu kecuali banyak yang mencucurkan air mata (Q.S. 5:83), gemetar dan bertambahnya iman (Q.S. 8:2), bergembira (Q.S. 9:24), bertambah khusyuk (Q.S. 17:107-109, 19:58), tersadarkan (Q.S. 25:73), menegakkan kebenaran (Q.S. 28:53), ketenangan (Q.S. 39:23). Bergeraknya jiwa manusia menjadi tanda turunnya keberkahan ilmu pada jiwa manusia (Q.S. 17:107-109). Ragam respon positif ini menegaskan bahwa pengaruh Al-Qur’an telah mulai melewati tenggorokannya sebagai wujud keberkahan ilmu.

وَاِذَا سَمِعُوْا مَآ اُنْزِلَ اِلَى الرَّسُوْلِ تَرٰٓى اَعْيُنَهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوْا مِنَ الْحَقِّۚ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اٰمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشّٰهِدِيْنَ

Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad).

Menangisnya Nabi SAW ketika Abdullah ibn Mas’ud r.a. membacakannya Surat An-Nisa sampai pada ayat 41, mengangkat tangannya Nabi SAW memohon ‘umatku, umatku’ saat membaca (Q.S. 5:118; 14:36).

اِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَاِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۚوَاِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَاِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

رَبِّ اِنَّهُنَّ اَضْلَلْنَ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِۚ فَمَنْ تَبِعَنِيْ فَاِنَّهٗ مِنِّيْۚ وَمَنْ عَصَانِيْ فَاِنَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Ya Tuhan, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia. Barangsiapa mengikutiku, maka orang itu termasuk golonganku, dan barang-siapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Bersambung.

💢 instagram.com/sekolahadabinsanmulia
🌐 sekolahadab.com

Al-Qur’an Hadir Untuk Bimbingan Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s